Daily Calendar

Selasa, 16 Oktober 2012

Contoh cerpen tema kasih sayang

Kasih Sayang Orang Tua Joko
     
Joko dilahirkan dari keluarga yang sederhana di Jakarta, Orang tuanya bernama Pak Diuan dan Bu Siti, Pak Diuan bekerja sebagai penarik becak dan Bu Siti bekerja sebagai penjual kue keliling. Saat ini Joko sedang duduk di kelas VI SD Harapan Bangsa. Pak Diuan berusaha meningkatkan penghasilan dengan cara bekerja sampingan menjadi kuli bangunan. Joko adalah anak yang pintar di kelasnya, ia selalu mendapatkan peringkat 1 dari kelas I hingga kelas V.
Tahun ini Joko bersiap-siap untuk menghadapi Ujian Nasional (UN), Joko sangat semangat belajar. Setiap pulang sekolah Joko selalu membuka buku dan mengulang pelajaran yang tadi diberikan di sekolah. Sebenarnya Joko iri terhadap teman-temannya yang mengikuti les, tetapi Joko sadar bahwa orang tuanya tidak akan sanggup membiayai dirinya untuk les. Penghasilan orang tuanya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Namun, Joko tetap semangat belajar. Pak Diuan dan Bu Siti selalu memberikan semangat untuk Joko. Joko sering diejek teman-temannya di sekolah karena Joko anak miskin.
Suatu pagi, saat Pak Diuan menghantarkan Joko ke sekolah menggunakan becak, Joko berpapasan dengan Tommy, temannya yang kaya dan sombong. “Joko, lagi naik becak ya !!”, ejek Tommy sambil tertawa. Joko hanya diam dan menghiraukan omongan Tommy. “Nak, kamu boleh marah sama bapak, bapak bukanlah orang tua yang baik.”, kata Pak Diuan kepada Joko. Joko menjawab, “Tidak Pak, bapak orang tua yang baik. Walau Joko hidup miskin, tetapi Joko bahagia bersama bapak dan ibu.”. “Kamu memang anak yang baik Joko.”, kata bapaknya.
Setelah beberapa bulan, Joko dan teman-temannya menghadapi Ujian Nasional (UN). Joko sangat serius mengerjakan soal-soal yang ada. Seminggu setelah Ujian Nasional (UN), Joko dan teman-temannya menunggu pengumuman. Setelah Pak Mudi, guru Joko membaca hasilnya, ternyata Joko berhasil menjadi yang terbaik untuk wilayah Jakarta. Nilai Joko dalam mata pelajaran matematika, IPA dan Bahasa Indonesia adalah 9,75. Pak Diuan dan Bu Siti sangat senang dengan hasil jerih payah Joko. Joko akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Ternyata Joko diterima langsung di SMP Penabur Jakarta, sekolah terbaik di Jakarta. Joko sangat senang karena sejak SD, ia menginginkan bersekolah di SMP tersebut.
Teryata di SMP Penabur, banyak diberikan tugas-tugas oleh guru-guru. Tugas-tugas itu tidak hanya tugas dengan tulis tangan, namun ada yang menggunakan komputer. Joko sangat sedih, karena ia belum pernah memakai komputer, Joko takut tidak mengumpulkan tugas-tugas itu. Pak Diuan dan Bu Siti merasa iba melihat anaknya, Pak Diuan berusaha mencarikan uang untuk membelikan laptop untuk Joko. Pak Diuan akhirnya meminjam uang kepada seorang renternir yang kejam. Pak Diuan meminjam uang sebanyak 10 juta rupiah. Pak Diuan, Bu Siti, dan Joko pergi ke toko komputer untuk membeli laptop. Setelah membeli laptop, Joko belajar untuk mengoperasikan laptop barunya itu. Joko sangat cepat belajar menggunakan laptop, dalam waktu seminggu Joko sudah terampil mengoperasikan laptopnya. Sebulan setelah membeli laptop baru, Pak Dicky menghampiri rumah Pak Diuan. Pak Dicky adalah renternir yang meminjamkan uang untuk Pak Diuan, sekarang ia akan menagih hutang tersebut dan bunganya. “Hei Diuan, cepat bayar hutangmu totalnya 15 juta.”, kata Pak Dicky dengan marah. Pak Diuan menjawab, “Maafkan saya, saya belum memiliki uang, istri saya sedang sakit dan anak saya belum membayar iuran sekolah selama 3 bulan.”. “Pokoknya kamu harus bayar, saya berikan waktu seminggu untuk membayar hutangmu.”, kata Pak Dicky lalu pergi. “Waduh, bagaimana ini, anakku saja belum bayar uang komite selama 3 bulan, istriku juga sedang sakit.”, keluh Pak Diuan. “Jangan cemaskan aku, besok aku akan bekerja untuk uang komite Joko dan kau bekerja untuk membayar hutang kepada Pak Dicky.”, kata Bu Siti yang tiba-tiba turun dari ranjangnya.
Sejak saat itu Bu Siti menjual kue keliling sambil menahan sakitnya. Pak Diuan berusaha bekerja sampai larut malam untuk mengumpulkan uang. Pekerjaan itu terus dilakukan selama seminggu. Setelah seminggu uang sebanyak 15 juta rupiah tidak bisa terkumpul. Kedua orang tua Joko hanya mampu menperoleh 3 juta rupiah, itu pun harus dipotong unag komite Joko. Saat Pak Dicky datang untuk menagih hutang, Pak Dicky marah besar dan menyita rumah Joko dan orangtuanya. Akhirnya Joko dan orangtuanya tinggal di kolong jembatan. Walau tinggal di kolong jembatan, semangat belajar Joko tidak pernah padam. Saat Joko kelas VIII SMP, Joko mengikuti lomba Karya Ilmiah Remaja tingkat nasional. Joko membuat sebuah karya yang berjudul “Globalisasi Terhadap Kebudayaan Indonesia”. Hasil karyannya tersebut membuat Joko menjadi juara I tingkat nasional dan berhak mewakili Indonesia di tingkat internasional yang diselenggarakan di Kota Madrid, Spanyol. Dalam lomba tersebut Joko membuat karya tulis yang berjudul “My Life”, dalam karyanya Joko menceritakan pahit manis kehidupannya dan kasih saying yang diberikan orang tuannya. Joko berhasil mendapat juara 3 dan mendapat hadiah yang banyak. Saat kembali ke Indonesia, Joko menemui orang tuannya di Jakarta. Joko sangat sedih karena ayahnya sudah meninggal dunia akibat tabrakan dengan mobil. “Ayah, Joko tidak akan melupakan ayah, buat Joko ayah adalah ayah terbaik. Walau Joko hidup miskin, kasih sayang ayah sangat Joko butuhkan, semoga ayah bahagia di sana.”, tangis Joko ditemani Bu Siti. “Sudahlah nak, kamu masih punya ibu. Ibu akan merawatmu. Ibu harap kamu tidak menjadi tukang becak seperti ayahmu, Ibu ingin kamu menjadi sukses. Saat kamu sudah sukses, jangan lupakan pengorbanan orang tuamu.”, kata Bu Siti sambil menangis.
Saat Joko berumur 30 tahun, Joko berhasil menjadi seorang direktur perusahaan di Manchester, Inggris. Joko menjadi sangat terkenal, karena perusahaannya menjadi perusahaan terbaik di Inggris. Joko sering diwawancarai oleh wartawan. Saat Joko ditanya oleh wartawan, “ Apa rahasia anda bisa sukses seperti ini ?”. Joko menjawab dengan satu kalimat, “ Kasih Sayang kedua orang tua saya dan usaha.”
Selesai

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar