Daily Calendar

Senin, 19 Agustus 2013

BENTUK-BENTUK PERLAWANAN RAKYAT DAN PERGERAKAN KEBANGSAAN MELALUI MIAI, GERAKAN BAWAH TANAH DAN PERJUANGAN BERSENJATA

BENTUK-BENTUK PERLAWANAN RAKYAT DAN PERGERAKAN KEBANGSAAN MELALUI MIAI, GERAKAN BAWAH TANAH DAN PERJUANGAN BERSENJATA
A.    Latar Belakang
Pada masa pendudukan Jepang , para pemimpin perjuangan bangsa Indonesia bersikap hati-hati. Hal ini dikarenakan pemerintah pendudukan Jepang sangat kejam menyiksa bahkan membunuh siapa saja yang terang-terangan menentang Jepang. Semua organisasi kebangsaan yang telah ada sejak penjajahan Belanda dibubarkan. Para pemimpin pergerakan kebanmgsaan selalu dicurigai dan diawasi dengan ketat. Hal tersebut disebabkan karena sebelum Jepang masuk ke Indonesia telah mengirimkan mata-mata sehingga memiliki data yang lengkap keadaan politik di Indonesia.
Menghadapi keadaan yang serba sulit maka para pemimpin bangsa Indonesia berjuang dengan menyesuaikan situasi dan kondisi. Mereka tidak kehilangan semangat perjuangan. Dengan taktik kooperasi para pemimpin dapat membela nasib nasional. Namun, ada pula yang mengadakan gerakan bawah tanah atau ilegal maupun dengan perlawana bersenjata. Semua itu adalah mempunyai cita-cita yang sama yakni mewujudkan Indonesia Merdeka.
B.     Bentuk-bentuk perlawanan terhadap Jepang
1.      Perjuangan Melalui Organisasi Bikinan Jepang
2.      Perjuangan Melalui Organisasi Islam, Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI)
3.      Perjuangan Melalui Gerakan Bawah Tanah
4.      Perjuangan Melalui Perlawanan Bersenjata
C.     Memanfaatkan Gerakan PUTERA (Pusat Tenaga Kerja)
Untuk memperkuat politik Jepang ( Hakko Ichiu) maka, Jepang membubarkan semua partai politik yang ada dan mebentuk Gerakan 3A yang dipimpin oleh Mr.  Syamsudin. Namun, organisasi ini dibubarkan karena tidak mendapat simpati dari rakyat. Kemudian tanggal 1Maret 1943 dibentuklah PUTERA.
PUTERA dipimpin oleh 4 Serangkai yaitu Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantoro dan K.H Mas Mansyur. Tujuan Jepang Membentuk PUTERA adalah agar kaum nasionalis dan intelektual menyumbangkan tenaga dan pikiran. Namun, pihak Indonesia PUTERA justru dimanfaatkan untuk membela rakyat dari kekejaman Jepang serta menggembleng mental dan semangat nasionalisme, cinta tanah air, anti kolonialisme dan imperialisme. Jepang memandang bahwa PUTERA lebih menguntungkan dan bermanfaat untuk Indonesia maka pada bulan April 1944 PUTERA dibubarkan oleh Jepang.
D.    Memanfaatkan Barisan Pelopor (Syuisyintai)
Setelah Putera dibubarkan, pemerintah Jepang membentuk Jawa Hokoaki ( Perhimpunan Kebaktian Rakyat Jawa). Salah satu bagian dari Jawa Hokoaki adalah Syuisyintai ( Barisan Pelopor). Organisasi ini dipimpin oleh Ir. Soekarno dan Pemimpin Harian atau Kepala Sekretariatnya adalah Sudiro. Beberapa Tokoh Nasional lain yang menjadi pengurus adalah Chaerul Saleh, Asmara Hadi, Sukardjo, Wryopranoto, Oto Iskandardinata dll.  Organissi ini dimanfaatkan oleh para nasionalis sebagai penyalur aspirasi nasionalisme dan memperkuat pertahanan pemuda melalui pidato-pidatonya.
E.     Memanfaatkan Chuo Sangi In ( Badan Penasihat Pusat)
Badan ini dibentuk pada tanggal 5 September 1943 atas anjuran Jendral Hideki Tojo ( Perdana Menteri Jepang). Ketuanya adalah Ir.Soekarno. Anggotanya berjumlah 23 orang Jepang dan 20 orang Indonesia. Tugas badan ini adalah memberi nasihat atau pertimbangan kepada Seiko Shikikan ( Penguasa tertinggi  militer Jepang di Indonesia).
Oleh pemimpin Indonesia melalui Chuo Sangi In dimanfaatkan untuk menggembleng kedisiplinan. Salah satu saran Chuo Sangi In kepada Seiko Shikikan adalah agar  dibentuknya BARISAN PELOPOR untuk mempersatukan seluruh penduduk agar secara bersama menggiatkan usaha mencapai kemenangan
            D. Perjuangan Melalui Organisasi Islam Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI)
Perkumpulan dari organisasi-organisasi islam yang berdiri pada tanggal 21 September 1937 berdasarkan prakarsa K.H Mas Mansur , K.H Wahab Hasbullah , Wondo amiseno dan tokoh lainnya di Surabaya Saat Pemerintahan Hidia Belanda.
Pada masa penyerbuan bala tentara Jepang ke Indonesia, organisasi MIAI melakukan kegiatan kegiatan terutama dalam bidang agama , meskipun pada tahun tahun terakhir menjelang jatuhnya Hindia Belanda ke tangan jepang , perhatiannya ke bidang politik  cukup besar , ini dapat dilihat dari programmnya yang berupaya mempersatukan oraganisasi organisasi islam untuk bekerja sama memperkokoh kerja sama umat islam baik di dalam negeri ataupun diluar negeri  , untuk mermperkuat itu , MIAI melakukan 3 kali kongres , kegiatan MIAI yang paling terkenal adalah BAITUL MAL (lembaga perbendaharaan Negara )
Setelah penyerbuan pada tahun 1942, Jepang merasa membutuhkan hidupnya organisasi MIAI. Oleh karena itu Jepang masih memberi hak hidup kepada MIAI dalam melakukan kegiatannya. Namun, MIAI tidak dapat memberi harapan bagi Jepang bahkan dianggap sebagai kendala terhadap keinginan Jepang karena MIAI dibentuk atas inisiatif kaum muslimi dan perhatiannya banyak tertuju pada masalah publik dan akan menolak segala bentuk kolonialisasi. Karena organisasi ini kurang memuaskan jepang, maka pada bulan Oktober 1943 dibubarkan dan diganti menjadi MASYUMI ( Majelis Syura Muslimin Indonesia) yang diresmikan Gunseikan pada tanggal 22 November 1943.
F.      Perjuangan Melalui Gerakan Bawah tanah
1.      Kelompok Sutan Syahrir
2.      Kelompok Amir Syarifudin
3.      Persatuan Mahasiswa
4.      Kelompok Sukarni
5.      Kelompok Pemuda Menteng 31
6.      Golongan Kaigun
G.    Kelompok Sutan Syahrir
Kelompok pendukung demokrasi parlementer yang merupakan model eropa barat dan kelompok penentang jepang karena jepang merupakan negara fasisme (Kekuasaan Pemerintah Otoriter yang mengutamakan kepentingan diatas segalanya ).
Anggota kelompok ini lebih banyak terdapat pelajar dari berbagai daerah seperti Jakarta , Surabaya , Cirebon , Garut , Semarang dan banyak lagi
Perjuangan kelompok ini menggunakan cara sembunyi-sembunyi atau dengan bergerak melalui bawah tanah
H.    Kelompok Amir Syarifudin
Kelompok ini sama dengan kelompok sutan syahrir karena sama sama menentang fasisme  dan tidak mau kerjasama dengan jepang . Kelompok mendapat bantuan uang 25.000 Gulden (Sekitar Rp 150.000.000) oleh P.J.A. Idenburg (Pimpinan Departemen Pendidikan Hindia Belanda ) yang memiliki hubungan erta dengan Amir Syarifuddin melalui Dr. Charles Van de Plas. Kelompok ini juga melakukan gerakan bawah tanah untuk melawan jepang.
Amir Syarifuddin pernah ditangkap dan dijatuhkan hukuman mati pada tahun 1944 oleh jepang , karena bantuan soekarno , hukuman amir syarifuddin menjadi Hukuman Penjara seumur hidup , namun setelah jepang menyerah dia (Amir) dibebaskan dari Hukuman itu
I.       Golongan Persatuan Indonesia
Golongan Persatuan manusia juga sama dengan kelompok Sutan Syahrir yaitu Menentang Jepang karena jepang merupakan negara fasisme. Golongan ini sebagian besar berasal dari Mahasiswa Ika Daigaku (Sekolah Kedokteran) dan BAPERPI ( Badan Permusyawaratan Pelajar Pelajar Indonesia )Tokoh Terkenal antara lain Supeno (Ketua) , Burhanuddin , Harahap , dan Kusnandar yang berasal dari BAPERPI . Mahasiswa yang terkenal adalah Djohar Noer , Sayoko , Syarif Thayeb , darwis , Eri Sadewo , Chairul Saleh dan Tadjuludin
J.       Kelompok Sukarni
Kelompok ini menghimpun orang orang yang berjiwa revolisioner  untuk menyebarkan cita cita kemerdekaan dan membungkam kebohongan kebohongan yang dilakukan jepang. Kelompok ini menutupi pergerakannya dengan cara medirikan asrama politik yang berjudul “Angkatan Baru Indonesia” . Di asrama itu tokoh pergerakan nasional mengajarkan pemuda tentang masalah umum dan politik. Tokoh tokoh yang tergabung antara lain  Adam Malik , Pandu Kartawiguna , Chairul Saleh , dan Maruto Nitimihardjo
K.    Kelompok pemuda Menteng 31
Kelompok yang dibentuk oleh pemuda yang bekerja di bagian propaganda jepang (Sendenbu) yang bermakas di gedung menteng 31 jakarta , secara resmi pendirian asrama kelompok ini dibiayai jepang sepenuhnya dengan maksud untuk menjadikan pemuda indonesia sebagai alat bantu jepang , namun oleh pemuda tempat ini digunakan untuk menggerakkan semangat nasionalisme.
Tokoh penting anggota ini adalah Sukarni , Chairul Saleh , A.M Hanafi , Adam Malik , Pandu kartawiguna , Maruto Nitimiharjo , Khalid Rasjidi dan Djamhari
L.     Golongan Kaigun
Kelompok ini anggotanya bekerja pada Angkatan Laut Jepang. Kelompok ini mendirikan asrama Indonesia Merdeka di Jalan Bungur Besar No. 56 Jakarta. Asrama ini didirikan atas inisiatif dan bantuan kepala perwakilan Kaigun di Jakarta, Laksamana Muda Maeda pada bulan Oktober 1944.  Sebagai pengurus asrama oleh Maeda ditunjuklah Mr. Ahmad Subardjo Djoyohadisuryo sebagai ketua dibantu tokoh tokoh muda Wikana.  Di dalam asrama ini mendapat pendidikanpolitik tokoh tokoh nasionalis seperti Ir. Soekarno, Drs Moh Hata , Sutan Syahrir , Kusuma Sumantri , Latuhary , RP Singgih , Ratu Langie , Maramis ,dan buntaran . Kelompok ini menjalin kerja sama dengan kelompok bwah tanah yang lain tetap denganhati hati agar tidak dicurigai oleh jepang. Golongan Kaigun Melakukan Kegiatan 1. Menjalin komunikasi dan memelihara semangant nasionalisme 2. menyiapkan kekuatan untuk menyambut kemerdekaan 3. mempropagandakan kesiapan untuk merdeka 4. memantau perkembangan perang pasifik.
M.   Perjuangan Melalui Perlawanan Bersenjata
Ø  Perlawanan Bersenjata yang dilakukan rakyat
1.      Perlawanan Rakyat di Cot Pleing (10 November 1942)
Perlawanan ini dipimpin oleh Tengku Abdul Jalil, seorang guru mengaji. Perlawanan di Cot Pleing, Lhoseumawe, Aceh ini diawali dari serbuan Jepang terhadap masjid di Cot Pleing. Masjid terbakar dan pasukan Tengku Abdul Jalil  banyak yang gugur. Akhirnya Tengku Abdul Jalil tewas ditembak oleh Jepang.

2.      Perlawanan Rakyat di Pontianak (16 Oktober 1943)
Perlawanan ini dilakukan oleh suku Dayak di pedalaman serta kaum feodal di hutan-hutan. Latar belakang perlawanan ini karena mereka menderita akibat tindakan Jepang yang kejam. Tokoh perlawanan dari kaum ningrat yakni Utin Patimah.

3.      Perlawanan Rakyat di Sukamanah, Singaparna, Jawa Barat (25 Februari 1944)
Perlawanan ini dipimpin oleh KH. Zainal Mustafa, seorang pendiri pesantren Sukamanah. Perlawanan ini lebih bersifat keagamaan. KH. Zainal Mustafa tidak tahan lagi serta membiarkan penindasan dan pemerasan terhadap rakyat, serta pemaksaan terhadap agama yakni adanya upacara “Seikeirei” (menyembah terhadap Tenno Heika Kaisar Jepang). KH. Zainal Mustafa peserta 27 orang pengikutnya dihukum mati oleh jepang tanggal 25 oktober 1944

4.      Perlawanan Rakyat di Cidempet, Kec Lohbener, Indramayu (30 Juli 1944)
Perlawanan ini  dipimpin oleh H. Madriyas, Darini, Surat, Tasiah, dan H. Kartiwa. Perlawanan ini disebabkan oleh cara pengambilan padi milik rakyat yang dilakukan Jepang dengan kejam. Sehabis panen, padi langsung diangkut ke balai desa. Perlawanan rakyat dapat dipadamkan secara kejam dan para pemimpin perlawanan ditangkap Jepang.

5.      Perlawanan Rakyat di Irian Jaya
a.       Perlawanan Rakyat di Biak (1944)
Perlawanan ini dipimpin oleh L. Rumkorem pimpinan Gerakan “ Koreri” yang berpusat di Biak. Perlawanan ini dilatarbelakangi oleh penderitaan rakyat yang diperlakukan sebagai budak, dipukuli dan dianiya. Dalam perlawanan tersebut rakyat banyak jatuh korban, tetapi rakyat melawan dengan gigih. Akhirnya Jepang meninggalkan pulau Biak.
b.      Perlawanan Rakyat di Pulau Yapen Selatan
Perlawanan ini dipimpin oleh Nimrod. Ketika sekutu sudah mendekat maka memberi bantuan senjata kepada pejuang sehingga perlawanan semakin seru. Nimrod dihukum pancung oleh jepang untuk menakut nakuti rakyat. Tetapi rakyat takut dan munculah seorang geriliyawan yakni S. Papare.
c.       Perlawanan rakyat di Tanah besar , daratan irian jaya
Perlawanan ini dipimpin oleh simson. Dalam perlawanan rakyat di irian jaya, terjadi hubungan kerja sama antara gerilyawan dengan pasukan penyusup sekutu sehingga rakyat mendapatan modal senjata dari Sekutu.
Ø  Perlawanan Bersenjata yang Dilakukan Peta
1.      Perlawanan PETA di Blitar (29 Februari 1945)
Perlawanan ini dipimpin oleh Syodanco Supriyadi, Syodanco Muradi, dan Dr. Ismail. Perlawanan ini disebabkan karena persoalan pengumpulan padi, Romusha maupun Heiho yang dilakukan secara paksa dan di luar batas perikemanusiaan. Sebagai putera rakyat para pejuang tidak tega melihat penderitaan rakyat. Di samping itu sikap para pelatih militer Jepang yang angkuh dan merendahkan prajurit-prajurit Indonesia. Perlawanan PETA di Blitar merupakan perlawanan yang terbesar di Jawa. Tetapi dengan tipu muslihat Jepang melalui Kolonel Katagiri (Komandan pasukan Jepang), pasukan PETA berhasil ditipu dengan pura-pura diajak berunding. Empat perwira PETA dihukum mati dan tiga lainnya disiksa sampai mati. Sedangkan Syodanco Supriyadi berhasil meloloskan diri.
2.      Perlawanan PETA di Meureudu, Aceh (November 1944)
Perlawanan ini dipimpin oleh Perwira Gyugun T. Hamid. Latar belakang perlawanan ini karena sikap Jepang yang angkuh dan kejam terhadap rakyat pada umumnya dan prajurit Indonesia pada khususnya.
3.      Perlawanan PETA di Gumilir, Cilacap (April 1945)
Perlawanan ini dipimpin oleh pemimpin regu (Bundanco) Kusaeri bersama rekan-rekannya. Perlawanan yang direncanakan dimulai tanggal 21 April 1945 diketahui Jepang sehingga Kusaeri ditangkap pada tanggal 25 April 1945. Kusaeri divonis hukuman mati tetapi tidak terlaksana karena Jepang terdesak oleh Sekutu.











































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar